Terpaut cinta dengan adiknya

 

Radit bersiul mengusir sepi. Jamarinya membuka ponsel, mencari notifikasi yang masuk.

"Menunggu paling menyebalkan, "

Mendengar suara Radit, beberapa orang menoleh ke arahnya. Tapi Radit tak peduli. Sudah hampir dua jam menunggu.

Tetiba bahunya ada yang menyentuh. Ia langsung membalikkan badannya. Seorang berparas cantik, hidungnya mungil. Berpadu manis dengan lentiknya bulu mata. Harumnya parfum yang lembut memberi sensasi berbeda.

"Reviii... "

Jantung Radit berdegup. Matanya tak berkedip seolah melihat bidadari di hadapannya. Netranya dikucek berkali-kali. Lalu menatapnya Kembali. Woow cantiknya, bisik hatinya.

Rasa rindu akibat terpisah oleh jarak dan waktu membuat Revi reflek memeluk Radit. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Radit. Ia membalas pelukan Revi.

"Auwww!"

Radit  meringis kesakitan. Ia tak menduga Revi mencubit perutnya. Ingin rasanya marah, tapi melihat senyum manis perempuan yang baru saja memberikan pelukan kerinduan, marahnya luruh.

"Ternyata Revi nggak pernah berubah!"

Revi tidak menanggapi keluhan Radit. Ia segera menggamit tangan Radit menuju parkiran. Beberapa bola mata tampak memerhatikan mereka berdua. Tapi Radit tak peduli, ia bahkan tersenyum menikmati momen ini.

“Kita makan dulu ya! aku mendengar cacing di perut kakak berisik.”

“Wah! Adikku memang hebat!  bisa membaca cacing lapar. Radit membayangkan, betapa senangnya jika Revi menjadi istriku.”

Revi tak menggubris ucapan Radit. Baginya ucapan itu hanya angin lalu. Radit  kakaknya. ia putra ayah tirinya. Meski saat itu pernah menyatakan cinta kepadanya. Hanya saja cinta mereka ditentang oleh keluarga, terutama bunda Hani. Revi menepis semua kenangan itu.

Mobil yaris silver perlahan meninggalkan terminal Merak. Radit dan Revi terjebak dalam pikiran masing-masing. Musik lagu Tanpa Batas waktu...Happy Asmara memecahkan kebekuan yang ada.

Radit menikmati lagunya, ia ikut bernyanyi. Bahu dan kepalanya bergerak,mengikuti irama lagu. Saat curi pandangnya menangkap wajah Revi, ada senyum tersungging di sana.

“Kenapa Revi senyum-senyum sendiri?”

"Apa yang kakak ingat dari aku,"

"Eh ditanya malah balik nanya!".

Melihat ekspresi wajah Radit, Revi tergelak. Tangan kanannya memukuli bahu kirinya. Radit diam tak membalas, tawa Revi semakin keras hingga pengikat kerudungnya lepas. Konsentrasi Radit hilang, mobil sempat oleng.

Untung Revi reflek membanting stir ke kanan agar tak menabrak pembatas jalan. Tanpa sengaja kedua tangan mereka bersentuhan. Wajah mereka begitu dekat, beberapa saat mereka saling memandang.

"Sorry!  Radit nggak fokus".

Radit menepikan mobilnya di bahu jalan. Ia penasaran, setiap kali memandang Revi, merasa melihat sosok yang selama ini mengisi hatinya, Zafira. Wanita yang dikenalnya lewat media sosial.

"Banyak yang kuingat dari Revi, Tawanya, senyumnya, cemberutnya hingga bau tak kasat mata aku ingat,"

Revi tersenyum, hanya itu yang keluar dari bibir Revi. Sampai mobil memasuki halaman rumah. Sebelum keluar dari mobil, Radit menahan jemari Revi. Awalnya Revi melawan, tapi gamit kekarnya mampu mengalahkan berontaknya hingga terduduk kembali di degup jantungnya.

Aku menunggumu dari SMA hingga sekarang. Revi mendengar ucapan Radit. Netranya protes atas tindakan Radit. "Sejujurnya,  aku mencintaimu. Tapi ada tembok di antara kita. Maka dari itu, kupilih mencintaimu dalam diam,"

Dengan kekuatan cintanya, Radit mendongakkan dagu Revi. Mereka beradu pandang tanpa sekat. Gemuruh hati Radit makin kencang.

Sementara Revi merasa yang di hadapannya bukan Radit tapi Faris. Lelaki yang mengikatnya dalam sebuah janji.

(Zafira, Aku lulus bulan ini. Tabunganku sudah cukup untuk biaya pernikahan kita. Minggu depan  aku akan datang melamarmu) 

"Revi, Radit akan melamarmu!"

Revi nanap mendengar ucapan Radit. Keningnya berkeluk ia tak percaya.

“Apa aku nggak salah dengar?”

“Aku ini adikmu, mana mungkin kita menikah? Aku sudah punya calon!”

“Apakah kau akan menikah dengan Faris Zafira?”

Netra Revi terbelalak mendengar Radit memanggilnya Zafira. Hanya Faris yang memanggilnya Zafira. Apakah Radit itu Faris?"

Revi menatap wajah Radit sambil menelponnya. Ponsel Radit bergetar. Wajah Revi memucat, rasa Bahagia, takut,sedih berbaur di benakya.

“Kau tak percaya ini Faris”

“Kakak jahat! Kakak jahat! Revi menangis. Maafkan aku Revi. Aku takut kau menolaknya.

Radit memeluknya sambal meminta maaf. “Aku akan menemui abah dan bunda Hani untuk minta restu darinya.”

 

 

Komentar